Kamis, 13 Juni 2013

Ketika Cinta Menyapa Tiara

KETIKA CINTA MENYAPA TIARA
By: Dilla Bintang

Tokoh-tokoh:
Tiara      : Cantik, Pintar, Baik Hati, Ramah, Tegas
Bunda    : Penyayang, Sabar, Pengertian
Zahra     : Cantik, Mudah Bergaul, Selalu ingin menjadi yang nomor 1
Izza        : Kutu Buku, Lucu, Bijaksana
Cristina  : Kritis, Toleran, Keras

Hari telah senja, mentari sudah hampir mencapai peraduan, kehangatannya sudah mulai berkurang. Semilir angin senja mengibarkan jilbab Tiara yang sedang berjalan memasuki halaman rumahnya. Ia baru saja mengisi kegiatan rutinan remaja putri di daerah binaannya. Terlihat gurat kelelahan di wajahnya yang  jelita, nampaknya kegiatan hari itu begitu menguras tenaganya. Sesampainya di depan pintu, ia pun mengucap salam seraya membuka daun pintu yang tak terkunci.
Tiara         :  “Assalamu’alaikum...”
Bunda      :  “Wa’alaikumsalam, eh putri Bunda baru pulang.” (ucap Bunda sambil menghidangkan makanan di meja makan, tak lupa senyum manisnya merekah menghiasi bibirnya)
Tiara         :  “Iya, Bunda. Tadi selesai kuliah Tiara mampir ke toko buku dulu, terus langsung ngisi acara.” (jawab Tiara seraya mencium tangan Bundanya, lalu duduk di samping Bundanya)
Bunda      :  “Ow... putri Bunda sibuk banget... ngomong-ngomong udah makan belum?”
Tiara         :  “Hehe... belum, Nda. Nggak sempat soalnya.”
Bunda      :  “Kamu selalu saja begitu, ingat kesehatan itu penting. Makan dulu gih!”
Tiara         :  “Iya iya Bunda sayang... Maafin Tiara ya...”
Bunda      :  “Iya, tapi jangan diulangi lagi ya cantik...”
Tiara         :  “Ok, Bunda...”
Mereka berdua makan bersama, Tiara tampak sangat lahap sekali, maklum setelah sarapan tadi tidak ada sesuatu pun yang masuk ke dalam perutnya.
Bunda      :  “Sayang, Fakhri tadi main ke sini. Dia bilang, dia sudah lulus dan sekarang sudah bekerja.”
Tiara         :  “Ow...”
Bunda      :  “Koq Cuma ow? Dia nanyain kamu lho!”
Tiara         :  “Oh ya? Emang ada apa, Nda?”
Bunda      :  “Katanya mau meminang kamu.”
Tiara         :  “(tersedak) apa? Serius, Nda?”
Bunda      :  “Hu’um...”
Tiara         :  “Masih pagi, Nda...”
Bunda      :  “Lho koq? Dah senja gini dibilang pagi”
Tiara         :  “Maksudnya Tiara lagi asyik-asyiknya menikmati kebebasan Tiara. Tiara masih pengen terbang bebas untuk meraih mimpi.”
Bunda      :  “Iya, Bunda tahu. Tapi kamu kan sudah cukup umur.”
Tiara         :  “Iya dech, nanti Tiara pikir-pikir dulu ya, Nda. Sekarang Tiara mau ke kamar dulu”
Sesampainya di kamar, Tiara termenung di meja belajarnya sambil melempar pandang ke arah bintang-bintang di langit dari jendela kamar yang terbuka. Kata-kata Bunda barusan mengusik hatinya. Pikirannya melayang mengingat masa kecil, saat ia asyik bermain dengan Fakhri. Sejurus kemudian, bayangan sosok salah seorang ikhwan muncul dibenaknya. Seorang ikhwan yang diam-diam mencuri hatinya.
Tiara meraih netbooknya, kemudian jemarinya menari dengan lincah untuk melukiskan kata-kata.
(Seseorang maju untuk membacakan diary yang ditulis oleh Tiara)
Dear Diary, tiada angin tiada hujan tapi seolah ada halilintar yang menggoncang jiwa. Baru saja Bunda bilang bahwa teman kecilku, Fakhri, datang ke rumah untuk meminangku. Apa yang harus aku lakukan? Sorot mata Bunda mengisyaratkan supaya aku menerima pinangan itu.
Setelah lama tak bertemu, dia kembali datang, dan langsung menemui Bundaku. Ya, itu tidak salah, tapi... Apakah aku harus jujur pada Bunda bahwa hatiku telah dicuri oleh seorang ikhwan? Oh, tidak mungkin... aku memang mengaguminya, dan ku pikir mungkin aku jatuh hati padanya. Tapi bagaimana dengan dia? Ku rasa tidaklah bijaksana bila aku menolak tanpa disertai alasan yang tepat.
Wahai Bintang, ke mana aku harus mencari jawab? Apa yang sebaiknya aku lakukan? Mengapa Fakhri tiba-tiba datang? Mengapa pula aku terjebak dengan keadaan yang seperti ini? Apakah ini pertanda bahwa aku harus melupakan ikhwan yang telah mencuri hatiku? Oh tidak... ku rasa aku benar-benar jatuh hati padanya. Tapi... akh... aku hanyalah seorang wanita, aku tidak mungkin mengawalinya...
Keesokan harinya, mentari bersinar terang seolah ingin mengajak semua orang untuk bersemangat dalam melakukan aktivitasnya, tak terkecuali Tiara. Tampaknya pagi ini dia sudah melupakan kegalauan hatinya. Wajahnya tampak berseri-seri ketika tiba di kampusnya.
Tiara         :  “Halo semua...”
Zahra       :  “Hai, ceria banget, darimana sih?”
Izza          :  “Ada dech, mau tahu aja.”
Christina  :  “Ditanya bener-bener koq jawabnya gitu?”
Zahra       :  “Iya nich, eh bingkisan apa tuch?” (merebut)
Izza          :  “Hey, nggak boleh. Itu punyaku.”
Zahra       :  “Apa sih isinya, buka ya...”
Izza          :  “Zahra... itu punyaku.”
Christina  :  “Apaan sih, kaya anak kecil aja.”
Zahra       :  “Wow... buku baru! Pinjam ya...”
Izza          :  “Ih.. nggak boleh, nanti aja kalau aku udah selesai bacanya.”
Zahra       :  “Ih pelit, kamu kan masih punya buku lain yang belum dibaca. Jadi yang ini biar aku baca dulu.”
Izza          :  “Suka-suka aku dong. Balikin akh...”
Christina  :  “Sudah-sudah, Zahra balikin gih!”
Zahra       :  “Iya-iya, Izza pelit...”
Christina  :  “Buku apa sih?”
Izza          :  “Hehe... novel terbaru karya penulis favoritku. Ini aku dapat gratis, langsung dari penulisnya.”
Zahra       :  “Ih... mau dong.”
Christina  :  “Judulnya apa, Iz?”
Izza          :  “Judulnya Jadilah Purnamaku, Ning.”
Zahra       :  “Wah... sepertinya asyik tuch, seandainya dia yang bilang gitu ke aku.”
Christina  :  “Siapa? Kamu lagi kasmaran ya?”
Izza          :  “Dan teman kita yang dari tadi diam saja nampaknya juga sama, lihat tuh wajahnya berseri-seri.
Tiara         :  “Apaan sih kalian.”
Zahra       :  “Beneran Tiara?”
Christina  :  “Dari tadi kamu lagi ngeliatin apaan sich? Asyik banget...”
Tiara         :  “Aku lagi lihat dokumentasi kegiatan kemarin, bagus-bagus ya...”
Zahra       :  “Biasa aja dech.”
Christina  :  “Salah satunya ada yang spesial di hati kamu ya?”
Zahra       :  “Atau jangan-jangan dia abis nembak kamu ya?”
Tiara         :  “Nggak...”
Zahra       :  “Huuhh... eh ngomong-ngomong, kalau cewek nembak duluan boleh nggak ya?”
Tiara         :  “Baiknya jangan dech.”
Zahra       :  “Kenapa?”
Christina  :  “Sekarang kan zamannya emansipasi, kenapa nggak?”
Izza          :  “Nggak gitu juga kali... Ya kurang lazim aja dikalangan kita.”
Zahra       :  “Berarti boleh dong.”
Izza          :  “Kamu koq antusias banget?”
Christina  :  “Maksud Zahra mungkin pengen tahu aja, boleh apa nggak gitu?
Tiara         :  “Boleh tidaknya relatif.”
Christina  :  “Maksudnya?”
Tiara         :  “Kalau dilihat sejarahnya, Bunda Khadijah dulu nembak Rasulullah. Jadi kita boleh menirunya. Tapi, apakah kita semulia Bunda Khadijah?”
Izza          :  “Bener itu, faktanya kita nggak semulia Bunda Khadijah kan? Jadi lebih baik jangan dech.”
Christina  :  “Terus kita harus nunggu gitu?”
Zahra       :  “Capek dech, ya kalau dianya tahu. Kalau nggak? Oh tidak..”
Izza          :  “Iya juga sih...”
Zahra       :  “Terus?”
Christina  :  “Jadi kesimpulannya boleh nggak?
Tiara         :  “Tanyakan pada hati masing-masing.”
Zahra       :  “Hatiku bilang boleh, jadi boleh ya... hahaha.”
All            :  “Kamu.... hahahaha.”
Akhirnya mereka tertawa bersama, dan dari percakapan mereka, kira-kira apakah yang akan dilakukan Tiara selanjutnya? Silahkan penonton melanjutkan sendiri ceritanya. Sampai jumpa... @_@

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar